Arek Betawi


arek Powered by Disqus
Clock Widgets


Let's Speak

#indonesiajujur “Kejujuran VS Kebodohan”

Kemarin, (10/06) ada kabar berita dari ex-city, Surabaya, tepatnya di daerah Tandes, seorang ibu diusir oleh warga kampungnya karena telah menuntut keadilan bagi anaknya. AL, anak si ibu, telah dipaksa oleh guru SDn 2 Gadel, Tandes, untuk berikan contekan kepada seluruh teman sekelas pada UN waktu lalu. Awalnya, permintaasn ibu itu tidak digubris oleh pihak sekolah, komite sekolah, bahkan dinas pendidikan terkait. Berita tersebut akhirnya terdengar di media dan ny. Siami, nama ibu itu, menjadi terkenal. Namun, bukan pujian yang didapat karena memperjuangkan kejujuran dalam ujian nasional, ia justru didemo oleh warga kampungnya, yang kebanyakan adalah wali murid dari teman sekelas anaknya. Ny. Siami dianggap membesar-besarkan masalah dan menjelekkan nama baik sekolah tempat anak mereka menuntut ilmu. Pada suatu acara mediasi dengan pihak sekolah ia pun diusir dengan paksa oleh puluhan warga kampung. Berita tersebut langsung mengingatkanku pada film jaman dulu di TVRI. Dimana pihak yang benar selalu dikalahkan. Kemudian tergambar warga desa yang tak bisa tidak dikatakan primitif, dan dengan semangat primitifnya menghujat-hujat serta memaki-maki sang pemeran utama. Di akhir film muncul pahlawan yang menyelamatkan tokoh protagonis dari amuk massa. Yak! Di film tersebut massa digambarkan sebagai kumpulan orang-orang bodoh yang punya syakwasangka dengan tanpa mempertimbangkan fakta-fakta atau bukti-bukti yang jelas. Dan kalaupun fakta itu jelas, mereka akan menolak apabila tidak menguntungkan mereka. Pengalaman ny. Siami layaknya dengan film itu. Warga yang marah menjadi gelap mata ketika tindakan ny. Siami mengancam keberhasilan anak mereka dalam ujian nasional. Akal, hati dan tubuh mereka telah melupakan nilai-nilai keluhuran dan etika pendidikan saat menghakimi ny. Siami. Berbekal ketakutan bersama tentang anaknya yang terancam gagal ujian, mereka bersatu-padu menghancurkan orang yang mengusik tatanan budaya kecurangan pada pendidikan anaknya. Kondisi ini sangat tragis. Di saat kita seharusnya maju dan mengembangkan alam pikir kita, justru orang dalam jumlah yang tak sedikit menggunakan pikiran primitif untuk mengambil tindakan. Sistem pendidikan berbasis nilai telah membuat orang tua berjalan mundur. Tak lagi penting apakah anak itu memiliki integritas atau tidak. Yang penting dapat nilai bagus, yang penting lulus ujian dan pada akhirnya setelah lulus, yang penting bisa cari uang. Lalu dimana letak kejujuran dan integritas? Dan lebih parah lagi tujuan pendidikan untuk mendidik pun tak akan pernah tercapai. Murid lulus dengan pengetahuan pas-pasan. Setelah naik tingkat maka pelajaran sebelumnya pun tinggal kenangan angka. Maka jangan heran jika nanti anda bertanya kepada anak-anak kita “apa yang kamu pelajari waktu kelas 5 SD?” Dan dijawab dengan, “ga tau, yang pasti matematika dapat 8, pengetahuan alam dapat 9, lalu pengetahuan sosial dapat 7”. Itulah hasil pendidikan untuk anak-anakmu. Dan bagaimana dengan nilai-nilai dan etika? Non-sense, semuanya telah berlalu.